Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

SUATU HARI, DI SEBUAH RSJ






Aku tidak pernah gila, tapi apakah kalian tahu bahwa dokter jiwa saya ternyata ‘Gila’ (Wanita dalam RSJ)
####

Aku terkejut bukan kepalang, nyaris saja telepon genggam yang masih dalam panggilan lepas begitu saja dari tanganku. Suaraku tercekat, tak sepatah katapun bisa aku keluarkan untuk bertanya kepada Mbak Eka yang berada di seberang. Pipiku sudah basah saat Mbak Eka menyebutkan kalimat pertamanya. Benar benar tak pernah terfikirkan, benar-benar tak menyangka dengan semua kronologi yang ku dengar.
“Mil, ternyata Syifa mengalami depresi berat, sekarang sudah di Rumah Sakit.” Mbak Eka berbicara patah-patah.
“Rumah Sakit?, Mbak Eka serius kan?” Aku memastikan.
“Iya, kemarin sore, Berlian, adiknya yang dari Jakarta datang buat ngajak dia pulang ke Sabang, tapi Syifa ngga bisa mengenali adiknya. Alternatif terakhir ya itu, Syifa terpaksa dilarikan ke RS, ibunya di telepon agar segera ke Jogja buat nyambangi.” Suara Mbak Eka terdengar parau. Runtutan cerita selanjutnya pun membuatku terus mengelus dada tak percaya.
“Ya sudah Mbak, mungkin nanti Mila bisa ke Jogja setelah urusan kampus disini beres.” Ucapku lemah. Klik. Telepon ditutup.
####
            Terjawab sudah rasa penasaranku selama tiga hari terakhir ini, pantas saja status di BBM nya terlihat seperti bukan Syifa yang kukenal. Aku masih terpekur memikirkan kembali ketidakmungkinan yang terjadi pada Syifa. Bukankah baru lima hari lalu kami berbicara di telepon, bercerita tentang sibuknya menjadi mahasiswa semester akhir, tugas laporan yang menumpuk, semuanya menunggu untuk diselesaikan. Syifa baik-baik saja, tak mengeluhkan apapun, pun tak ada tanda-tanda kalau ia punya masalah besar yang tak bisa diselesaikan. Kok sekarang malah dia dikabarkan masuk rumah sakit. Benar-benar tak masuk akal.
            “Kita ke Jogja ya Zit, lihat Syifa.” Rengekku usai bercerita panjang lebar pada Zita.
            “Terus disana kita bisa bantu apa Mila? Udah banyak yang jagain kali Mil, disana udah ada Mbak Eka, Mas Shaqy, ada Berlian Juga.” Suara Zita berat
            “Iyaa Zit, tapi tetap saja kita harus jenguk, Syifa sudah seperti saudara buat kita Zit. Lagian Malang-Jogja paling juga Cuma 9 jam.” Kilahku
            “Berdua?”
            “He-em.” Anggukku
            “Berapa Hari?”
Aku mengacungkan 4 jari di depan muka. Tersenyum garing, berharap Zita akan setuju.
            “Oke, demi Syifa dan kamu Mil.” Imbuhnya
Yes!, hatiku berlonjak girang. Semoga saja usahaku dan Zita tak sia-sia, aku membatin. Semoga kedatanganku bisa melihat Syifa sadar, setidaknya mengenaliku dan Zita.
####
Jogja memberikan sambutan hangat kepadaku dan Zita, matahari hampir tumbang saat kakiku menjejak turun dari Kereta yang mengantarku ke Kota ini, mungkin inilah alasan Syifa bercerita mengapa jogja selalu istimewa. Benar-benar hiruk pikuk yang tidak aku temukan di kota bernama Malang. Aku menekan keypad handphone, mencari nama Mbak Eka.
“Mau dijemput dimana Mil?” Suara mbak Eka serak
“Mila sama Zita udah di Stasiun Lempuyangan mbak, dulu kata Syifa kos-kosannya dekat stasiun ini?, bisa jalan kaki?, kira-kira berapa puluh menit mbak?” Aku menodongnya dengan banyak pertanyaan
“Pertanyaannya ngga bisa satu-satu Mil?” Zita mulai sewot
Aku nyengir lebar. “Biar ringkas Zit, hemat pulsa ucapku.”
            “Tunggu di sana deh Mil, Mbak kesana.” Klik. Suara diseberang langsung menutup percakapan.
            “Mbak Eka yang jemput kita Zit.” Ucapku. Itu berarti kita tak perlu sewa angkot atau jalan kaki. Tumpangan gratis akan menghampiri.
####
            “Kamar Mbak kecil, maklumin yah kalau ntar tidurnya susun sarden.”
            “Tempat tinggal gratis sudah Alhmdulillah mbak, lagian kita juga ke Jogja tanpa rencana, kalau gak Mila yang maksa pergi.” Celoteh Zita.
Aku melotot kearahnya. Memberi isyarat agar ia tak melanjutkan mengeluarkan kalimat-kalimat tak penting lainnya. Lagian apa ruginya sesekali berkorban demi sahabat. Toh jarak atau isi dompet tidak terlalu jadi masalah, pikirku.
“Rumah sakitnya dimana Mbak?” Aku bersuara.
“Dekat kok, sepuluh menit dari sini, jalan kaki juga bisa.” Mbak Eka asyik menyusun buku yang terserak di atas dipannya.
“Besok langsung bisa jenguk mbak?”
“Bisa, aku dan Shaqy juga sudah janjian besok mau bertemu di Rumah sakit.” Sambar Mbak Eka.
Zita mengangguk-angguk paham. Sebenarnya aku, Zita, dan Syifa sudah bersahabat sejak SMP, kemana-mana selalu bertiga, bahkan ada yang sampai manggil kita kembar tiga –saking sering bersama-. Secara kita sama-sama bermata empat, tinggi hamper sejajar, hanya saja Zita memang lebih pendiam dan cuek. Mbak Eka dan Mas Shaqy adalah kakak tingkat satu sekolah. Kita sering bertemu saat upacara bendera. Nama merekapun selalu di tingkat atas sebagai murid paling top satu sekolah.
“Mbak tak tau apa yang terjadi pada Syifa, hanya saja mbak menangkap gelagat tak beres ketika dia tiba-tiba nangis di depan kamar Mbak, bilang kalau asam lambungnya kambuh, minta ditemanin ke Rumah Sakit, tapi setelah di rumah sakit ia malah bawa hasil rontgen yang dimasukin ke map, Mbak mau tanya tapi sungkan. Sorenya Mbak terkejut saat mendapati dia menjerit, melempar boneka beruang besar yang baru saja diajaknya berbicara, kamarnya berantakan, jangan kalian tanya pakaiannya, ia membuang semuanya di depan kolam depan.” Mbak Eka menunjuk kolam kecil tak jauh dari pintu utama kos.
Aku miris mendengarnya, ada perasaan bersalah saat mengingat lima hari lalu sempat mengejeknya dengan sebutan “gadis penggoda” saat ia menelponku
“Terus mbak?” Zita baru kelihatan antusias mendengar cerita Mbak Eka.
“Dia terus meracau tak karuan, menumpahkan segalon air kelantai sampai kamarnya banjir, terus.. ada yang aneh, dia terus bilang soal pangeran akan datang, pangeran ingkar janji. Apa dia pernah punya pacar, atau lagi berhungan sama seseorang Zit?” Ekspresi wajah Mbak Eka berubah menjadi sangat serius. Zita menggeleng lemah.
“Sama Irwan mbak, teman SMA dulu. Tapi sudah putus 6 bulan lalu.” Ucapku
“Ada orang lain mungkin?” Selidik Mbak Eka
Aku berfikir sejenak, merenung.
“Itu loh Mil, siapa? Yang kamu bilang Aa’ Bandung. Kan dia pernah ngajak Syifa jadian.”
“Iya, namanya Andra, apa Andre yah Zit? tapi Syifa nolak kok. Orang kenalnya aja ga jelas darimana.” Sergahku
“Tapi dia sempat ke jogja beberapa waktu lalu kan. Syifa sempat SMS aku kayak gitu sih.”
“Aku juga pernah diceritain lewat BBM Zit, dikirimin beberapa potong dialognya sama Aa’ Bandung itu, katanya sih dikenalin sama teman SD nya yang juga kuliah di Bandung, tapi namanya aja aku udah lupa.” Aku berjingkat mengambil hape diatas lemari kayu Mbak Eka.
“Kamu mah bukan lupa, tapi pikun.” Ucapan Zita yang memang berniat mengejekku. Aku manyun tak setuju.
“Besok kalian mau jenguk pukul berapa?” Mbak Eka meletakkan setoples biscuit dihadapanku.
“Tergantung jam besuk Mbak. Kalau bisa agak siangan, kita mau beli oleh-oleh buat Syifa.” Mata Zita tak lepas dari buku sejarah yang memang sengaja dibawa sebagai teman perjalanan.
“Ya sudah nanti Mbak SMS kan Shaqy dulu, biar sekalian nanti diantar ya. Oh iya, Mbak ada janji sama teman, mungkin pulangnya jam 9 an, kalian istirahat aja. Anggap kamar sendiri.” Mbak Eka tersenyum sambil keluar kamar.
Yeay.. time to take a rest.
####
Aku berjalan paling belakang, menyusuri koridor rumah sakit Muhammad Husen, entah kapan terakhir kali mataku menatap ruangan berdinding putih ini, mencium bau khas setiap lokal ruangnya. Langkah kami terhenti di depan ruangan 217, ayah dan ibu Syifa sudah ada disana. Mungkin debar jantung mereka berpacu lebih cepat dibanding kami, menunggu tubuh layu itu sadar dan berbicara.
“Bapak, Ibu..!” Mas Shaqy menciumi tangan orangtua Syifa, diikuti oleh kami bertiga.
“Ibu datang duluan?” Aku berbasa-basi menyapa
“Iya, ibu dan Ayah Syifa menginap di Mess kampus. Jaraknya lebih dekat dibanding dari kos Syifa.” Terlihat sekali gurat sedih seorang ibu, aku sempurna memahaminya, aku mengenalnya karena beberapa kali Syifa mengajakku ke rumahnya. “Terimakasih kalian sudah mau repot jenguk Syifa, dari Malang kan?” imbuhnya. Aku dan Zita mengangguk.
“Kita sudah bersahabat lama bu, jadi sudah seperti saudara.” Akuku
Dia tersenyum. Sedikit memaksa. “Semoga Syifa segera sadar.” Doa itu pasti kemutlakan yang selalu terluncur, apalagi dari seorang ibu.
Lima menit berlalu. Seorang dokter tampan memasuki ruangan dimana Syifa tergolek layu. Terhitung sangat muda untuk ukuran seorang dokter, terlihat berkharisma dan, senyum terus menggelayuti bibirnya. Perawakannya tinggi, tatapan matanya sayu tapi tajam. 
“Saya Dokter yang menangani Syifa, ruangan saya ada di paling ujung rumah sakit ini” ucapnya sambil tersenyum ramah.
“Terimakasih dok, kami titip Syifa kepada anda.” Mbak Eka yang dari tadi diam kini mulai angkat suara.
            Setelah memeriksa kondisi Syifa, dia bilang Syifa baik-baik saja. Dokter itu berlalu, aku menyesal tak sempat menanyakan siapa namanya. Ah. Aku memang selalu melupakan hal yang seharusnya penting untuk ditanyakan.
####
Hingga menjelang kepulanganku, hari terakhir berada di kota Gudeg, aku belum melihat Syifa membuka mata, namun kabar yang lebih mengejutkan membuat aku dan Zita urung pulang ke Malang.
“Syifa dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa Nak,dokternya bilang Jiwanya terganggu, ia ‘Gila’.” Ibunya tersedu pagi itu, saat aku dan Zita bersiap menuju stasiun.
“Aku, Zita, Mbak Eka, Mas Shaqy, semua terkejut bukan kepalang. Gila? Bayangkan saja seperti apa orang gila? Syifa gila? Mustahil. Aku membatin
Pagi itu juga aku bergegas ke Rumah Sakit Jiwa, bersama ibu dan ayahnya. Ak melihat Syifa yang meringkuk di pojok ruangan sempit berbau tak karuan. Campur baur, persis seperti pikiranku saat ini. Aku melihat lingkaran hitam di bawah matanya, tatapannya menerawang. Kosong. Ia meringis, pipinya basah seperti orang yang baru saja menangis. Apakah dia benar-benar gila?
“Syif! Kau mengenal kami kan? Ini Mila dan Zita.” aku menunjuk dada.
Dia tergugu, menjerit keras, lalu menangis. Aku memeluk Zita erat, menumpahkan tangisku di bahunya. “Syifa tidak mungkin gila Mil, percaya aku.” Zita mengelus pundakku.
Syifa mendekati kami, tergugu dan memberikan secarik kertas lusuh. “Aku direbut keperawanannya, Andreas Dinata Pramudya, Aku tidak gila tapi dokter jiwa itu gila.”
Aku terperanjat, seperti bangun dari lamunan panjang. Aku ingat sebuah nama yang pernah Syifa ceritakan padaku. Iya, nama itu. Andreas Dinata Pramudya. Aku tak salah. Itu nama yang ia sebut dengan Aa’ Bandung. Aku tak mungkin salah. Aku menyeret Zita menuju meja receptionist, bertanya apakah ada dokter jiwa yang bernama Andreas, receptionis itu menggeleng, bilang kalau hampir semua dokter jiwa disini adalah perempuan. Aku mendesak Zita pergi ke Rumah Sakit Muhammad Husen. Benar, seorang perawat menunjuki sebuah ruangan yang berada di paling ujung rumah sakit. Kakiku gemetar, bukannya dokter tampan yang menangani Syifa bilang kalau ruangannya juga berada di paling ujung rumah sakit ini? Lantas? Pikiranku buntu. Langkahku terseok menuju ruangan itu. Ruangan itu sudah kosong, tak ada barang-barang tersisa kecuali beberapa peralatan medis. Aku terduduk sempurna saat melihat pigora besar tergantung di dinding ruangan, iya. Dokter itu adalah dokter tampan berkharisma nan ramah yang menangani Syifa. Aku melihat Zita yang mulai meleleh air matanya.
“Zit, Syifa tidak gila.” Suaraku tercekat di tenggorokan.
“Kau lihat itu!” tanganku menunjuk plang nama yang tergeletak di atas meja kecil, terserak bersama botol obat dan jarum suntik. Dr. Andreas Dinata Pramudya.
“Syifa tidak gila, dokter jiwanya yang sudah gila.” Zita tergugu

####
Malang, 21 September 2016






Rabu, 02 Desember 2015

I JUST SHOCK FOR A MOMENT



Jum’at 18 September 2015
Sore telah merangkak pergi, cahaya mega merah telah hilang dari pandangan. Aku baru saja beranjak meninggalkan teras rumah. Selesai sudah parade sore kali ini, aku telah melihat sekawanan burung layang-layang terbang rendah di atas atap rumah, lenguhannya seolah memberikan isyarat pada rombongan untuk segera pulang bersama. Terbayang ibu, terbayang rumah dan kampung halaman, terbayang teman-teman SD, terbayang keruhnya air sungai Batanghari, apalagi saat musim hujan seperti ini, sungai pasti meluap dan naik hingga pangkal batang Pauh yang berada di tebing dekat rumah.
Aku melangkah masuk rumah, bukan rumah tepatnya. Tapi kamar kontrakan yang tidak begitu luas. Hanya menampung dua orang. Aku dan Mbak Tania, yang hingga saat ini belum pulang dan belum ngampus tentunya. Padahal, janjinya untuk pulang sudah lewat seminggu. Aku membuka buku catatan-catatanku, apalagi kalau bukan ber-curhat ria. Saat ini tak punya teman untuk membuang sampah-sampah perasaan galau dan dilemma.
Belum sempat menulis apa-apa, hapeku berdering, 1 missed call, Nama mbak Tania tertera di layar HP ku. Selang beberapa menit, hapeku berdering lagi. Mbak Tania. Aku buru-buru menyambarnya tanpa ba-bi-bu lagi. Suara serak dan berat itu bukan suara mbak Tania, benar. Telingaku sudah terlampau akrab dengan suara renyahnya mbak Tania, dimanapun itu aku bisa mengenalinya. Tapi.. suara ini asing, itu bukan suara mbak Tania.
“Halo.. mbak Tan!” aku memulai percakapan..
“Ini Morin kan? Suara itu berat dan serak..
“Iya, ini Morinda, ini siapa?” Ucapku menyelidiki
“Ini Fania, kakaknya Tania, bisa minta tolong Rin? Suara beratnya tiba-tiba menjadi lebih serius.
“Minta tolong apa yah mbak?”
“Tolong kemasi barang-barang Tania yah, senin ini langsung kita ambil.”
Aku bingung, antara percaya atau tidak, mbak Tania tidak pulang ke Surabaya lagikah? Kecamuk hati itu tak sempat ke keluarkan. Hape diseberang sana sudah dimatikan. Tak ada lagi suara. Meninggalkan Tanda Tanya dihatiku. Mbak Tania tak bilang apa-apa ketika pulang, dia bilang akan kembali lagi, kesini, ke rumah kontrakan sempit kami.
Minggu, 27 September 2015.
Mbak Tania selalu membuatku bingung. Selalu sukses. Setelah seminggu tak memberiku kabar via telephon melalui kakaknya. Sekarang yang datang malah surat undangan pernikahan. Geram sekali rasanya hatiku. Aku memencet tombol panggil, nada sambung terdengar tanpa jawaban, hingga 5 kali aku memanggil, tapi tetaplah taka da jawaban. Aku mendengus sebal. Barang-barang yang sudah ku kemasipun belum diambil. Aku menghempaskan tubuhkau ke ranjang, menarik dan mengatus nafas, shock sekali rasanya. Mbak Tania tak pernah cerita tetang kekasih atau apapun, tiba-tiba menikah. Kan tidak lucu, aku bergelut dengan pikiranku sendiri. Berburuk sangka dan menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Malamnya aku kembali duduk di depan teras rumah kontrakan kami, memandangi langit penuh gemintang, menikmati udara dingi di musim hujan, mendengarkan senandung suara katak yang bersahut-sahutan berdo’a memohon agar malam ini hujan kembai menggguyur Surabaya. Aku memencet tombol panggil, Ibu. Rindu sekali mendengar suara sendunya menasehatiku, memberikan instruksi untuk makan dan tidur tepat waktu, bercerita tentang sawah tadah hujan kami yang padinya mulai menguning, atau tentang adikku yang pulang maghrib karena bermain air di sungai Batanghari .
“Ada apa anak ibu?” suara khas ibu selalu begitu, bertanya selalu dengan embel-embel ‘anak ibu’. Aku bahkan pernah usil bertanya, kenapa harus selalu ada embel-embel ‘anak ibu nya’. Itu bukti kalau ibu sangat sayang pada Morin lebih dari apa pun. Pernyataan yang sudah tidak bisa kubantah lagi.
“Rindu Bu!” ucapku lirih. Aku benar-benar rindu ibu”
“Sudah dido’akan? Ibu kembali bercanda..
“Setiap sembahyang Morin selalu mendoakan keluarga Bu” Aku pias. Dua minggu tidak mendengar suara ibu rasanya hatiku seperti kekurangan suplemen.
“Bagaimana kuliahnya nak?” kalau pertanyaan satu ini, ibu tak pernah lupa menanyakan.
“Alhamdulillah, lancar Bu” itu selalu jawabanku, entah itu aku bolos kuliah, entah nilai jelek dari dosen, entah itu tugas kuliah yang super menumpuk. Bilang ‘lancar’ adalah solusi terbaik.
“Keluarga sehat semua Bu?”
“Alhamdulillah sehat Nak”
“Teman sekamar Morin mau menikah minggu ini Bu” Ucapku getir, membayangkan bagaiman aku sendiri di dalam ruangan kamar kecil kami. Tak ada teman untuk sekedar curhat atau mengeluhkan betapa capeknya hari ini.
“Teman yang sering Morin ceritakan itu?” ibu bertanya ingin tau
“Iya Bu, mbak Tania, kakak angkatan satu tahun di atas Morin”
“Yah.. mungkin sudah waktunya. lagian kalau jodoh tak bisa diusir Rin” kalimat terakhir ibu terdengar menggantung. Hingga akhirnya, ibu menceritakan kejadian yang membuatku tambah shock. Si Mia, teman sekelasmu dulu malah menikah tanpa pamit orangtua. Suara ibu terdengar lemah. Lelaki yang membawa nya juga ‘pakai ilmu’ kata Sok Yati mu.
Aku tertegun, mendengarkan cerita ibu hingga akhir. Mia, adalah teman sekelasku ketika duduk di sekolah dasar. Sebenarnya dia juga saudara karena nenek kami adalah kakak-adik kandung. Usianya lebih tua setahun dariku, dia terhitung anak yang pendiam dan tak banyak omong. Selepas SMA nya, dia langsung pulang kampung, membantu pekerjaan Sok Yati di kebun sawit milik mereka. Ibu bilang dia tak pernah punya pacar, tapi Ono -seorang Bujang kampung yang setiap hari datang ke rumahnya. Rajin membawakan makanan, terkadang memberikan uang. Ketika malam pun tak pernah telat menelpon pek Mia. Yah dari situ ternyata telephon genggamnya itu adalah milik si Ono yang sengaja dipinjamkan, tanpa Mia sadari Bujang sudah menaruh ‘Bacaan’ yang membuat mia mau disuruh apa saja. Termasuk ‘kawin lari’ tanpa persetujuan orangtuanya.
“lantas sekarang?” otakku sudah penuh pertanyaan rasanya.
“Yah.. Sok Hata mu marah besar, dan mengusirnya dari rumah, Si Ono membawanya ke rumah orangtuanya.
Aku tertegun, seminggu ini ada banyak sekali hal yang mengganggu pikiranku. Mulai dari mbak Tania yang menikah tiba-tiba, Pek Mia yang kawin lari hanya karena Handphone pinjaman, entahlah..apa lagi yang akan terjadi. Aku terpekur. Telephon ibu masih belum ditutup. Belum ada nasehat yang mengalir. Entah apa yang akan ibu samapaikan kali ini.
“Rin? Sudah tidur? Ibu memastikan.
“Ndak bu..” biasanya di tengah-tengah telephon berlangsung, aku lebih sering ter-nina bobokkan oleh suara ibu.
“Kalau belajar yang sungguh-sungguh Rin, siapa tahu masa depanmu lebih beruntung dari ibu dan Ayah, mungkin punya kesempatan sekolah keluar negeri, punya kehidupan yang lebih mapan, dan tentunya tidak kembali bergelut dengan tanah lumpur dan pacul, tidak kembali ke sawah, hidup lebih layak nak” kalimatnya menyentuh sekali. Genangan air di pelupuk mataku tinggal menunggu satu kedipan saja, maka tumpah ruahlah ia.
“Iya Bu, semoga adik-adik dan Morin juga menjadi manusia yang kelak bisa memberikan kebahagiaan yang lebih kepada Ibu dan Ayah, “ ucapku lemah
“Iya, sudah kau tidur sana, ibu juga sudah mengantuk. Ucap ibu pada Akhirnya..
            Klik!! Telephon ditutup. Dalam benakku ada banyak sekali tanda Tanya. Mbak Tania, apakah dia baik-baik saja, aku ingin tau cerita sebenarnya, tapi telephonku tak pernah diangkat sekalipun, pek Mia, semoga amarah Sok Yati dan Sok Hata segera reda.
            Malam ini, aku lelah. Ingin sekali rebah dan menyaksikan pesona sunrise esok. Semoga hilang semua yang mengganjal di hati dan pikiran. Lelaplah wahai jiwa.







Sabtu, 19 September 2015

Surat Senja di 8 Maret




1 Maret 2009, dalam pesona senja
Entah mengapa senja adalah waktu yang seolah menyihirku. Sepenuhnya. Setiap hari di waktu yang juga sama aku selalu berdiri disini, di balkon rumaku untuk menikmati pesona senja. 5.20.. seharusnya sekarang adalah waktu yang tepat untuk membeli pengganjal perut, namun aku sudah tak menghiraukan rasa lapar lagi. Toh nanti juga rengekan-rengekan itu akan berhenti dengan sendirinya. Ada saja hal yang menarik untuk direnungi setiap kali senja menjelang.. entah itu rasa kangen kampung halaman yang menggebu, tentang hatiku yang separuh telah hilang bersama dia, atau hanya fikiran-fikiran tentang hal-hal tak penting yang tidak sengaja nimbrung. Semua itu terasa sangat membahagiakan. Langit, selalu memberi pemandangan terindah yang tak bisa aku lukis dengan kata-kata. Penggal-penggal kisahku seolah semuanya lebur dalam pesona yang kian menguning di bawah kaki horisonmu. Terlupakan. Entah dimana akan kulabuhkan kisah ini? Seperti tiada ujungnya saja. Ah sudahlah. Langit. Kuceritakan dengan sangat detail pun kau tak akan pernah tau, tidak akan.
*  *  *
Kumandang azan menggema melalui menara yang menjulang di samping rumahku. Langkah ringan memaksaku untuk masuk, menuliskan sebuah surat. Surat kelima yang kutulis untuk orang yang sama. Pertama ingin kukatakan bahwa aku telah jatuh cinta pada seseorang. Namanya Farhan, aku menyukai dia secara diam-diam. Hanya hatiku yang terus berbicara jika aku menyukai dia. Aku selalu menulis surat setiap kali senja tenggelam di ufuk barat. Entahlah, seperti satu inspirasi datang setiap kali senja pulang.
“Apa kabar anda tuan bermata bening?, Tuan..mungkin malam ini aku tidak akan bisa tertidur dengan lelap, aku ingin anda bernyanyi sebentar saja. Mendendangkan sebuah lagu di telingaku. Tuan…tuan bermata bening, saat mengingat semua tentang anda, rasanya semua duniaku berubah menjadi berwarna biru. Ah tidak, lebih tepatnya kali ini aku akan bercerita tentang sebuah mimpi. Mimpiku yang mungkin akan terwujud, atau mungkin juga tidak. Mimpiku sederhana tuan, aku ingin menjejakkan kakiku di eropa ketika 4 musim bersama anda. Ah, benar-benar mimpi yang konyol bukan??. Tapi entahlah, apakah anda juga merasakan hal yang sama? Semoga jawabannya “iya”.
*  *  *
Kulipat surat itu, kumasukkan dalam amplop berwarna merah jambu. Derit laci terdengar mengejek saat ingin kumasukkan surat itu di tumpukan paling bawah setelah buku-buku berukuran tebal. Ah, ini adalah surat kelima. Besok lusa mungkin akan ada surat keenam, ketujuh dan seterusnya. Tak ada pak pos, andaikatapun ada aku tak akan mengirimkan surat-surat berisi pengakuan bodoh ini. Tidak akan. Aku merebahkan tubuhku, meneliti langit-langit kamarku, ah andai ia dapat bicara mungkin ia akan ikut mengejekku. Terlalu bodoh untuk mencintai seseorang yang tak pernah mengenalku. Tapi tak apa, ini jalan yang aku pilih. Bukankah tidak ada masalah dengan mencintai tanpa dibalas, toh cinta tak harus memiliki bukan??. Semua terdiam, ruangan senyap. Hanya aku dan deru nafasku yang kian memburu. Langit, tolong bilang padanya bahwa “Aku mencintai Dia”
*  *  *
5 Maret 2009. Dalam pesona senja yang masih sama.
          Kembali lagi di saat senja hampir menghilang, aku masih berdiri disini, balkon rumahku. Akan kuhabiskan waktuku sampai azan maghrib kembali memanggilku untuk menuliskan sebuah surat kepada orang yang sama. Surat yang tak akan pernah kukirimkan kepada dia. Surat rahasia yang hanya akan menumpuk di dalan laciku. Surat kesepuluh kalinya.


Untuk anda tuan bermata bening…
Anda yang telah mengajarkan aku untuk jatuh cinta, jatuh cinta yang berkepanjangan. Anda mengajarkan aku terobsesi dengan khayalan. Hai anda tuan bermata bening…..
Ceritakan kepadaku seberapa banyak mantera yang anda baca. Apa saja?? Ceritakan padaku tuan. Aku merasa ini seperti mimpi tuan, mimpi yang tak kunjung berakhir. Di alam nyata, anda tidak mengenalku, tapi di alam mimpi anda mengenalku dengan sangat baik.,
Wahai tuan, tuan bermata bening… berikan aku satu alasan, agar akudapat melupakan anda. Satu saja, tak perlu banyak. Berikan aku alasan agar aku berhenti menulis surat-surat konyol ini. Tuan bermata bening…karena mencintai anda selama ini aku tidak memiliki alasan apapun, maka untuk meupakan anda pun aku tidak memiliki alasan.
*  *  *
8 Maret 2009.
Ku terhempas dan jatuh di kegelapan malam..
Memaksaku untuk menerima satu kenyataan..
Hari ini langkahku yang harus melupakan, sejuta harapan untuk selamanya..
Nada dering dari telephon genggam membangunkanku, 3 missed call dari nomer tak dikenal. Ah, paling juga Zaza yang selalu iseng menggodaku, aku membatin. Aku melirik jam dinding yang tergantung tepat di atas kepalaku. 05.25 sore. Sepertinya aku terlalu lama tertidur Ah, senja hampir pulang, saatnya menghabiskan waktu untuk senja. Aku melangkah gontai, menjejaki balkon tanpa alas kaki, eitt..tunggu dulu, ada sebuah benda tergeletak di pojok kiri bawah di ujung balkon. Aku memungutnya. Selembar amplop berwarna ungu tua, anonym, tak ada nama pengirim disana, tapi itu di tujukan untukku. Namaku tertulis di bagian belakang amplop, di sudut kanan atasnya. Aku membuka dan melahap kata demi katanya. Menyentuh sekali, dan hatiku bergetar. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin berloncatan keluar di kepalaku. Tulisan yang benar-benar tertata dengan rapi. Jarak space yang sama, mungkin si pengirim menggunakan penggaris untuk mengukur jarak setiap tulisannya.
“Selamat hari perempuan sedunia, perempuan tegar. Aku tau kau adalah perempuan senja yang kuat. Perempuan yang keras kepala dan tak mau menyerah. Maaf untuk mengganggu menghabiskan senjamu karena surat ini, aku tau kau akan datang untuk menghabiskan senja disini. Aku melihatmu setiap hari, saat rembang senja berubah menjadi kemerahan di ufuk barat. Kau memang perempuan yang tak pandai mengungkapkan perasaanmu. Jangan tanya ada apa? Aku mengetahui semua tentangmu. Bagaimana kau bercerita kepada Zaza bahwa kau begitu menyukaiku, kau tau Zaza adalah saudara sepupuku. Hah..kau memang perempuan yang tak pandai menjaga rahasia yaa. Tapi tak apa, aku bangga disukai perempuan sepertimu. Hari ini, kau tau ini hari apa? Hari ini adalah hari perempuan sedunia, semua perempuan berbahagia hari ini. Kau kemana saja perempuan senja. Kau baru menampakkan dirimu saat langit berubah menjadi warna kuning. Aku ingin mengatakan sesuatu..
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tak ingin kulanjutkan kalimat itu, apa yang akan dia katakana. Apa dia akan mengatakan aku adalah perempuan bodoh, atau dia akan memutus semua harapanku, menyuruhku untuk tidak membuat surat-surat konyol, apalagi sampai menyukainya. Ah, malu sekali rasanya, semua yang aku lakukan benar-benar bodoh, aku bercerita kepada sahabatku yang ternyata adalah saudara sepupunya. Ingin sekali aku meneriaki Zaza dan marah padanya. Tuhan, selamatkan hatiku!”
Rasa penasaranku mengalahkan semuanya, aku membaca kalimat terakhir si surat itu.
“Perempuan senja, aku ingin kita membuat sebuah perjanjian, kau harus tetap datang setiap kali senja menjelang, karena aku akan berada disana. Aku menunggumu perempuan senja. Farhan.
Hatiku bersorak, Aku sungguh dalam buncah bahagia. Terimakasih tuhan.