It's time to say goodbye.
Ternyata kau benar2 pergi.
Kau persis sama seperti hujan, membuatku bahagia lalu pergi begitu saja tanpa pamit.
Goodbye good boy..
Yah...walaupun kau tak pernah mengetahui semua rahasia ini.
Yah..tidak apa-apa.
Rahasia ini milikku.
Pergilah sejauh mungkin
Semoga aku tak ingat kisah ini yaaaaa..
Aku ingin melupakan semuanya..
Semua tentangmu dan cinta rahasiaku.
Kau seperti hujan.
Benar-benar sama.
Meninggalkanku tanpa pamit.
meninggalkanku tanpa sepatah katapun...
Aku sedih..
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 Februari 2015
Senin, 16 Februari 2015
“Semangkok mi kuah saat hujan berhenti”
Stop, hujan tak mengguyurku lagi. Kulipat paying dan kutenteng pulang. Hujan Reda. Kalau kata orang jawa “ Leren”, bahkan saat kutengadahkan tangan pun, rintiknya sudah tak terasa.
Ah…Aku lupa tentang seorang teman. Aku pulang bersamanya lagi. Sebenarnya itu adalah sebuah rutinitas, walau[un aku jarang akur dengannya, tapi selalu saja dia tak pernah marah padaku. Aku tak tau apakah karena dia adalah anak terlucu, tersotoy, dan tergeje di kelasku. Kurasa bukan itu. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang tak aku ketahui. Kita tak pernah (baca:jarang) pergi bersama, anehnya setiap pulang hamper selalu bersama. Seingatku ini bukan kali pertamaku pulang saat hujan atau saat hujan berhenti. Kita berpisah di pertigaan jalan. Aku memiih untuk berlari menuju kantin asrama.tergopoh aku melangkah kecil2. Biasanya aku mau ke kantin kalau pakai payung, saat hujan masih deras-derasnya.
Tapi, lain untuk kali ini, aku ingin menatap tetes-tetes terakhir hujan di bumiku. Lengang, hanya aku. Aku duduk di meja panjang paling ujung hingga mataku bebas menjelajah keluar. Lihat, tetes-tetes kecilnya masih menetes melalui atap setetes demi setetes.
Aku memesan semangkuk mie kuah. Biasanya, saat hujan deras aku berlari ke kantin, lalu memesan semangkuk mie, lalu menunggu hingga hujan sempurna reda. Tapi kali ini, semangkuk mie saat hujan berhenti sepertinya terlihat baik. Asap masih mengepul saat ibu-kantin meletakkannya tepat di depanku. Ini dia, mie setengah matang dengan sedikit kuah pavorit saya. Selalu saja begitu. 2 menit, 10 menit, 15 menit. Akhirnya, hujan sempurna tak menetes lagi. Langit mulai terang. Hujan. Selamat tinggal untuk hari ini. Saatnya Pulang. :)
Stop, hujan tak mengguyurku lagi. Kulipat paying dan kutenteng pulang. Hujan Reda. Kalau kata orang jawa “ Leren”, bahkan saat kutengadahkan tangan pun, rintiknya sudah tak terasa.
Ah…Aku lupa tentang seorang teman. Aku pulang bersamanya lagi. Sebenarnya itu adalah sebuah rutinitas, walau[un aku jarang akur dengannya, tapi selalu saja dia tak pernah marah padaku. Aku tak tau apakah karena dia adalah anak terlucu, tersotoy, dan tergeje di kelasku. Kurasa bukan itu. Tapi ada sesuatu dalam diriku yang tak aku ketahui. Kita tak pernah (baca:jarang) pergi bersama, anehnya setiap pulang hamper selalu bersama. Seingatku ini bukan kali pertamaku pulang saat hujan atau saat hujan berhenti. Kita berpisah di pertigaan jalan. Aku memiih untuk berlari menuju kantin asrama.tergopoh aku melangkah kecil2. Biasanya aku mau ke kantin kalau pakai payung, saat hujan masih deras-derasnya.
Tapi, lain untuk kali ini, aku ingin menatap tetes-tetes terakhir hujan di bumiku. Lengang, hanya aku. Aku duduk di meja panjang paling ujung hingga mataku bebas menjelajah keluar. Lihat, tetes-tetes kecilnya masih menetes melalui atap setetes demi setetes.
Aku memesan semangkuk mie kuah. Biasanya, saat hujan deras aku berlari ke kantin, lalu memesan semangkuk mie, lalu menunggu hingga hujan sempurna reda. Tapi kali ini, semangkuk mie saat hujan berhenti sepertinya terlihat baik. Asap masih mengepul saat ibu-kantin meletakkannya tepat di depanku. Ini dia, mie setengah matang dengan sedikit kuah pavorit saya. Selalu saja begitu. 2 menit, 10 menit, 15 menit. Akhirnya, hujan sempurna tak menetes lagi. Langit mulai terang. Hujan. Selamat tinggal untuk hari ini. Saatnya Pulang. :)
Di hujan aku punya cerita, tentang seseorang, seseorang yang akan tetap sama dari waktu kewaktu.
Dia. Saya mencintai Hujan, Langit, dan kamu sekaligus.
Prolog: Semangkuk mie saat hujan Reda, Ayu Lestari:)
Dia. Saya mencintai Hujan, Langit, dan kamu sekaligus.
Prolog: Semangkuk mie saat hujan Reda, Ayu Lestari:)
Minggu, 15 Februari 2015
Aku Mencintai Hujan, Langit, dan Kamu Sekaligus
Dari sebuah Blog, Aku suka quote ini...
Hujan selalu menyisakan tanya yang tak terjawab
di benakku. Hujan selalu setia menemani setiap pertemuan kita. Adakah hujan
merupakan tanda hadirmu? Dan aku mulai mengintip malu-malu saat tetes pertama
membasahi ujung daun yang membisu, adakah engkau berdiri di ujung jalan sana?
Menanti kita bertatap muka. Berdiri dengan segala pesona, melantunkan simfoni
akan kerinduan yang membuncah di ubun-ubun.
Sayangnya TIDAK. Engkau mungkin ada, menatap
langit yang sama, menghitung tetes demi tetes yang tumpah, ataupun berirama
bersama ketukannya pada tanah. Engkau memang ada. Ada dalam dimensi tak kasat
mata. Ada dalam bayang semu tanpa wujud nyata. Aku dan kamu bertatap muka dalam
fatamorgana.
Hujan mungkin telah purba…
Tapi aku bisa mencium aroma tubuhmu dalam wangi
tanah yang penuh kemewahan. Pun aku bisa melukis wajahmu di setiap tetesnya.
Hujan merefleksikan fantasiku akan wujudmu yang mulai samar tergerus jarak yang
menjauhkan pertemuan. Samar. Hidungmu. Matamu. Bibirmu. Matamu paling jelas
rasanya, penuh pendar kepolosan anak kecil.
Hujan adalah pelebur jeda, perekat tanpa sekat
tapi tak mengikat. Hujan sekali lagi adalah milik kita. Hanya kita dalam bisu.
Saling tatap. Hujan tak pernah hadir saat kita di ujung jalan yang berbeda.
Hujanku, hujanmu, hujan kita. Adalah saat berlari. Seirama walau tanpa
pertautan jemari. Basah seluruh. Sama rata. Terengah, nafas putus-putus,
diakhiri tawa. Mentertawakan Tuhan yang mencandai kita, karena hujan hanya
turun saat kita melangkah satu-satu di jalan beratap langit.
Hujan memang bukan sebuah kepastian, namun ia
adalah ikatan. Penghubung samar akan cinta yang tersisa setelah tergerus
egoisme. Masihkah hujan mengiringi pertemuan kita?
Masih kuingat jelas katamu, “Biar saya duduk di sana”. Dan kau pindah
ke dekat jendela, di mana tetes hujan merembes perlahan, membuatku basah dan
batuk tanpa jeda. Ah..inikah yang dinamakan ROMANTISME? Entah! Yang jelas
nilaimu bertambah di hadapku seiring dengan kadar cinta yang terus menanjak
menuju pintu langit. Mengetuk pintuNya agar terbentang jalan penyatuan. Aku
mencintai hujan, wangi tanah, dan kamu sekaligus.
*hujan masih turun di luar sana, seakan Tuhan
memberiku waktu lebih lama untuk mengenangmu….
Selasa, 27 Januari 2015
Apakah anda pernah mendengar tentang Pluviophille sebelumnya? Kalau belum, simak artikel berikut!
Pluviophille bisa disebut sebagai penyakit kejiwaan untuk para penikmat,pencinta , penggemar setia hujan. Ya! Pluviophille adalah sebutan untuk Anda yang menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam hati maupun pikiran Anda ketika hujan turun.
Saya mengetahui istilah untuk pencinta hujan ini pertama kalinya di twitter, terbesit di benak saya, ternyata memang ada sebutan untuk penikmat hujan. Itu artinya banyak orang yang juga merasakan kenyamanan dan kedamaian ketika hujan turun.
Di dalam kamus saya, mungkin berbeda dengan sebagian orang diluar sana yang pada saat turunnya hujan adalah momen yang tepat untuk bergalau ria. Saya malah sebaliknya, saya menerjemahkan hujan sebagai momen yang menyenangkan, alasannya sederhana karena hujan, suara dan suasana yang dibawanya itu menawarkan kehangatan tersendiri bagi saya, membuat pikiran saya tenang dan saya menjadi lebih berkonsentrasi dan menemukan inspirasi-inspirasi baru.
Lagipula banyak hal yang berguna dapat dilakukan saat hujan, misalnya membaca buku, mendengarkan musik sambil duduk manis meminum secangkir kopi dan kegiatan lainnya.
Jadi, udah tahu,kan? Untuk kalian yang menyenangi, menikmati, dan selalu setia menanti turunnya hujan itu apa? Ya! Kalian dapat menyebut diri kalian sebagai Pluviophile!
Untuk semua Pluviophile, selamat menanti turunnya hujan ^^
Pluviophille bisa disebut sebagai penyakit kejiwaan untuk para penikmat,pencinta , penggemar setia hujan. Ya! Pluviophille adalah sebutan untuk Anda yang menemukan kebahagiaan dan kedamaian dalam hati maupun pikiran Anda ketika hujan turun.
Saya mengetahui istilah untuk pencinta hujan ini pertama kalinya di twitter, terbesit di benak saya, ternyata memang ada sebutan untuk penikmat hujan. Itu artinya banyak orang yang juga merasakan kenyamanan dan kedamaian ketika hujan turun.
Di dalam kamus saya, mungkin berbeda dengan sebagian orang diluar sana yang pada saat turunnya hujan adalah momen yang tepat untuk bergalau ria. Saya malah sebaliknya, saya menerjemahkan hujan sebagai momen yang menyenangkan, alasannya sederhana karena hujan, suara dan suasana yang dibawanya itu menawarkan kehangatan tersendiri bagi saya, membuat pikiran saya tenang dan saya menjadi lebih berkonsentrasi dan menemukan inspirasi-inspirasi baru.
Lagipula banyak hal yang berguna dapat dilakukan saat hujan, misalnya membaca buku, mendengarkan musik sambil duduk manis meminum secangkir kopi dan kegiatan lainnya.
Jadi, udah tahu,kan? Untuk kalian yang menyenangi, menikmati, dan selalu setia menanti turunnya hujan itu apa? Ya! Kalian dapat menyebut diri kalian sebagai Pluviophile!
Untuk semua Pluviophile, selamat menanti turunnya hujan ^^
Langganan:
Postingan (Atom)